Stratigrafi merupakan ilmu yang mempelajari tentang perlapisan batuan berdasarkan karakteristiknya dan waktu pengendapannya.
Stratigrafi sangat berhubungan erat dengan sedimen serta paleontologi. Seperti yang kita ketahui, salah satu kegunaan fosil dalam paleontologi adalah untuk biostratigrafi batuan atau dalam kata lain untuk menentuan umur batuan. Bertujuan untuk korelasi, yaitu menunjukkan bahwa horizon tertentu dalam suatu bagian geologi mewakili periode waktu yang sama dengan horizon lain pada beberapa bagian lain. Fosil berguna karena sedimen yang berumur sama dapat terlihat sama sekali berbeda dikarenakan variasi lokal lingkungan sedimentasi.
Permukaan bumi memiliki relief-topografi yang bervariasi dan kompleks. Relief topografi bumi serta komposisi materialnya menggambarkan bebatuan pada mantel bumi, material lain pada permukaan, juga menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan-perubahannya. Topografi muka bumi tersebut dapat kita analisis dan kita pelajari salah satunya dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh (remote sensing).
Seperti yang kita ketahui, penginderaan jauh (remoting sensing) adalah suatu teknik observasi terhadap objek tanpa menyentuh objek tersebut juga tanpa menggangu atau merusak sistem lingkungan di sekitar objek tersebut.
Dewasa ini pemanfaatan teknologi penginderaan jauh semakin berkembang pesat, baik dalam hal bidang terapannya maupun frekuensi pemanfaatannya. Hal ini disebabkan karena penginderaan jauh memungkinkan perolehan informasi permukaan bumi secara cepatdan lebih murah dibandingkan dengan cara terestrial, dengan ketelitian yang cukup akurat. Citra penginderaan jauh menggambarkan obyek, daerah, atau gejala di permukaan bumi dengan : (a) ujud dan letak obyek yang mirip dengan ujud dan letaknya di permukaan bumi, (b) relatif lengkap, (c) meliput daerah yang luas, dan (d) permanen. Dari jenis citra tertentu dapat ditimbulkan gambaran 3 dimensi.
Dalam remoting sensing, observasi yang dilakukan bertujuan untuk menangkap atau mencatat spektrum yang dipantulkan atau dipancarkan oleh objek tersebut. Remoting sensing berkaitan dengan interpretasi citra non-foto dan citra foto. Citra non-foto adalah sebuah gambar yang dicetak dari hasil perekaman dengan bantuan alat seperti satelit dengan hasil perekaman secara parsial, contohnya adalah citra dari satelit Landsat, Ikonos, dan SPOT. Sedangkan, citra foto merupakan sebuah gambar yang dicetak dari hasil pemotretan dengan kamera dan perekaman secara topografi. Contohnya adalah foto udara.
1.2Batasan Masalah
Objek kajian pada makalah ini difokuskan pada identifikasi dan analisis citra foto udara mengenai geomorfologi daerah sungai Citarum dan sekitarnya.
1.3Tujuan
Tujuan utama penulisan makalah ini ialah untuk memenuhi tugas mata kuliah Penginderaan Jauh. Selain itu juga untuk menambah wawasan serta pengetahuan bagi yang membacanya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Analisis Geomorfologi dengan Foto Udara
Penginderaan jauh telah berkembang pesat, hal ini ditandai dengan penggunaan citra foto udara sebagai pengumpul data dan pemberi informasi yang cepat, tepat, serta akurat dalam bidang geologi, khususnya untuk mengidentifikasi dan menganalisis relief-topografi muka bumi yang bervariasi dan kompleks. Foto udara digunakan untuk analisis geomorfologi, mempelajari bentuk-bentuk lahan dan bentangalam.
Analisis geomorfologi yang dilakukan pada dasarnya berkaitan dalam menentukan tingkat pengaruh struktur dan litologi pada suatu batuan yang berkembang menjadi morfologi. Analisis tersebut meliputi analisis pola penyaluran, bentuk lahan, pola aliran sungai, pola patahan dan rona. Analisis pola penyaluran merupakan langkah yang paling utama dalam mempelajari geomorfologi, dengan memperhatikan tekstur dari pola penyaluran tersebut. Namun, analisis-analisis lain juga mempunyai peranan yang penting dalam mendukung interpretasi geomorfologi secara keseluruhan.
Pada kali ini yang akan diidentifikasi serta dianalisis memakai citra foto udara ialah Daerah Alirah Sungai (DAS) Citarum.
2.2 Interpretasi Citra
Interpretasi citra adalah perbuatan mengkaji foto udara dan atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi obyek dan menilai arti pentingnya obyek tersebut. (Estes dan Simonett dalam Sutanto, 1994:7) Menurut Lintz Jr. dan Simonett dalam Sutanto (1994:7), ada tiga rangkaian kegiatan yang diperlukan dalam pengenalan obyek yang tergambar pada citra, yaitu:
(1)Deteksi, adalah pengamatan adanya suatu objek.
(2) Identifikasi, adalah upaya mencirikan obyek yang telah dideteksi dengan menggunakan keterangan yang cukup.
(3) Analisis, yaitu pengumpulan keterangan lebih lanjut.
Dengan kata lain, interpretasi citra merupakan kegiatan yang mempelajari bayangan foto secara sistematis untuk tujuan identifikasi atau penafsiran objek. Interpretasi citra biasanya meliputi penentuan lokasi relatif dan luas bentangan. Interpretasi akan dilakukan berdasarkan kajian dari objek-objek yang tampak pada foto udara.
Dalam melakukan interpretasi suatu objek atau fenomena digunakan sejumlah kunci dasar interpretasi atau elemen dasar interpretasi. Dengan karakteristik dasar citra foto dapat membantu serta membedakan penafsiran objek – objek yang tampak pada foto udara. Berikut tujuh karakteristik dasar citra foto yaitu :
1.Bentuk
Salah satu unsur/elemen di dalam penafsiran geologi yang sangat penting untuk mengenal bentuk bentangalam konstruksional. Bentuk berkaitan dengan bentuk umum, konfigurasi atau kerangka suatu objek individual. Bentuk agaknya merupakan faktor tunggal yang paling penting dalam pengenalan objek pada citrta foto.
bentuk jalan yang lurus
2.Ukuran
Ukuran dalam foto udara meliputi jarak, luas, volume, tinggi, dan kemiringan. Ukuran objek pada citra sangat berhubungan dengan skala.
Ukuran jalan besar atau jalan utama berbeda dengan ukuran jalan kecil
3.Pola
Pola berkaitan susunan keruangan objek. Pengulangan bentuk umum tertentu atau keterkaitan merupakan karakteristik banyak objek, baik alamiah maupun buatan manusia, dan membentuk pola objek yang dapat membantu penafsir foto dalam mengenalinya.
Pola pemukiman yang teratur pada foto menunjukan bahwa objek tersebut merupakan tipe perumahan
4.Ron dan warna
Rona adalah suatu ukuran dari jumlah relative sinar yang dipantulkan oleh suatu objek dan direkam oleh kertas film hitam dan putih. Rona hitam diartikan bahwa objek tersebut banyak terkena sinar, begitu pula dengan rona putih yang sedikit terkena sinar.
Warna yang tercetak pada foto/citra yang umumnya merupakan warna palsu. Misalnya hutan yang harusnya berwarna hijau pada citra jadi tampak berwarna gelap/hitam.
Permukaan yang menyerap cahaya seperti permukaan air akan terlihat berwarna gelap. Sedangkan permukaan sawah yang memantulkan cahaya ke kamera terlihat berwarna lebih cerah.
5.Bayangan
Bayangan penting bagi penafsir foto karena bentuk atau kerangka bayangan menghasilkan suatu profil pandangan objek yang dapat membantu dalam interpretasi, tetapi objek dalam bayangan memantulkan sinar sedikit dan sukar untuk dikenali pada foto, yang bersifat menyulitkan dalam interpretasi.
Ini merupakan bayangan dari objek disampingnya yang juga memiliki ketinggian lebih dibanding objek-objek disekitarnya.
6.Tekstur
Tekstur ialah frekuensi perubahan rona dalam citra foto. Tekstur dihasilkan oleh susunan satuan kenampakan yang mungkin terlalu kecil untuk dikenali secara individual dengan jelas pada foto. Tekstur merupakan hasil bentuk, ukuran, pola, bayangan dan rona individual. Apabila skala foto diperkecil maka tekstur suatu objek menjadi semakin halus dan bahkan tidak tampak.
7.Lokasi
Lokasi objek dalam hubungannya dengan kenampakan lain sangat bermanfaat dalam identifikasi.
Permukiman pada umumnya memanjang mengikuti jalan
2.3 Identifikasi Citra Foto Udara
Setelah tahap interpretasi selesai dilakukan, selanjutnya masuk ke dalam tahap identifikasi.